Fsdss-874 Kasih Paham Rudalku Terhadap Teman Kerja Cantik Mami Mashiro - Indo18 <DIRECT>

Dia menurunkan gelasnya, menaruhnya di meja dengan hati-hati, lalu melangkah lebih dekat lagi. Tangan Mashiro menutupi tanganku, mengalirkan kehangatan yang menenangkan. “Jika kamu mau, kita bisa membuka bagian itu bersama,” katanya dengan suara rendah namun tegas.

Saat aku membuka pintu ruang istirahat, dia sudah duduk di meja pojok, menatap laptop dengan senyum lembut. “Hai, Rudi. Aku dengar kamu suka makan sushi,” katanya, suaranya lembut seperti melodi piano.

“Aku suka cara kamu memandang dunia,” katanya sambil menatapku. “Kamu selalu mencari logika di setiap detail, bahkan di hati sendiri.”

Dia mengangguk, kemudian mencondongkan kepalanya ke arahku, bibirnya mendekat. “Rudi, apakah kamu siap menerima rasa baru ini? Bukan sekadar rasa makanan, tapi rasa yang mengalir dalam setiap detak jantungmu.” Saat aku membuka pintu ruang istirahat, dia sudah

Aku tersenyum, menatap matanya yang bersinar. “Kamu mengajarkanku cara menikmati momen, bukan hanya memecahkannya menjadi angka-angka.”

“Rudi,” bisiknya, “aku selalu memperhatikan kamu. Kamu tampak selalu fokus, tapi ada bagian dirimu yang masih tersembunyi.”

Mata kami bertemu, dan dalam sekilas, aku merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa lapar. Ada getaran halus, seolah-olah setiap detik di antara kami mengandung energi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Setelah menikmati beberapa set sushi, kami memesan sake hangat. Gelas kaca berkilau di tangan Mashiro, cahaya lampu menyorot kilauannya. Kami bersulang, “Kanpai!” seru kami serempak. “Aku suka cara kamu memandang dunia,” katanya sambil

Mashiro menuntun langkahku ke sebuah bangku kayu yang menghadap ke kolam kecil. Kami duduk, saling berhadapan, menatap air yang berkilau. Suara gemericik air menambah keheningan yang hangat.

Saat taksi berhenti di depan restoran sushi, lampu neon berkilau menambah sensasi malam yang hangat. Kami masuk, memilih tempat duduk di pojok yang agak sepi, dengan pemandangan dapur terbuka. Chef menyiapkan sashimi segar di depan kami, menorehkan aroma ikan mentah yang menggiurkan.

“Bagus, aku juga penasaran. Ayo, makan bareng.” Kami melangkah keluar gedung, menembus lalu lintas kota yang riuh. Di dalam taksi, Mashiro menyalakan musik jazz lembut, menambah suasana yang santai. Selama perjalanan, percakapan kami mengalir lancar: tentang pekerjaan, hobi, bahkan rahasia kecil yang hanya dibagikan antara dua orang yang merasa nyaman satu sama lain. selalu mengingatkan kami untuk istirahat

Mami Mashiro tetap menjadi “Mami” bagi kami semua, tetapi kini bagiku, dia juga menjadi sesuatu yang lebih—sebuah pelita yang menuntunku melewati gelapnya kebimbangan. Kasih yang ia berikan mengajarku memahami, menerima, dan mengarahkan “rudal” emosionalku ke arah yang lebih indah.

Aku mengangguk lagi, lebih yakin kali ini. Tanpa kata-kata lagi, ia menyentuh bibirnya ke bibirku. Sentuhan itu lembut, penuh kehangatan, seolah mengukir jejak rasa pada lidah. Rasa manis sake masih mengendap, kini bercampur dengan sensasi yang lebih dalam. Malam terus bergulir, namun kami tetap duduk di bangku itu, berbagi cerita, tawa, dan diam yang tak terbata. Kami membiarkan diri kami terbuka, menurunkan pertahanan yang selama ini menutup hati kami.

Dan begitulah, dari sebuah undangan makan siang sederhana, lahirlah cerita tentang dua hati yang menemukan ritme mereka di tengah hiruk‑pikuk kota—sebuah kisah yang akan terus kami kenang sebagai awal dari sesuatu yang lebih hangat, lebih nyata, dan lebih memuaskan.

Kasih Paham Rudalku Terhadap Teman Kerja Cantik, Mami Mashiro Kode: FSDSS‑874 – INDO18 Bab 1 – Panggilan Tak Terduga Aku, Rudi, seorang analis data di sebuah perusahaan teknologi yang sedang naik daun, tak pernah menyangka sebuah email singkat dapat mengubah ritme hariku. Pagi itu, sebelum matahari sepenuhnya menguasai kota, inbox-ku bergetar dengan subjek: “Undangan Makan Siang – 12.30, Ruang Istirahat Lantai 5” . Pengirimnya? Mashiro Tanaka , atau yang lebih akrab disebut Mami Mashiro oleh rekan-rekan kerja.

Mami Mashiro bukan sekadar “teman kerja cantik”. Dia adalah sosok yang memancarkan aura kehangatan dan misteri. Tingginya 170 cm, rambut hitam panjangnya selalu dibiarkan tergerai, dan mata cokelatnya seolah menembus tiap keraguan yang melintas di hati. Di kantor, dia dikenal sebagai “Mami” karena sifatnya yang peduli, selalu mengingatkan kami untuk istirahat, dan tak jarang menyiapkan kue untuk tim.